Suatu hari diperpustakaan sekolahnya, Zamzani tengah sibuk menjalankan rencana yang telah ia susun dengan survey selama seminggu. Zamzani mulai dengan mengambil sebuah buku secara acak di bagian rak "buku pendidikan" kemudian ia mengambil posisi bangku paling pojok dekat AC, disebelah rak buku besar yang berisi ensiklopedi sehingga membuatnya sedikit tertutupi jika dia melihat kearah Sani --gadis pujaannya sejak SMP--. Agar tidak ada yang curiga dengan aksinya ini Zamzani dengan sigap membolak-balik buku-asal-ambilnya tadi. Bagi orang lain kegiatannya ini sudah dimasukkan pada penyakit gila ala Andrea H. Namun bagi pak Husein -- penjaga perpustakaan yang selama ini mengetahui kegiatan survey Zamzani-- ini adalah hal yang wajar, dia membiarkan Zamzani dengan aksinya.
Zamzani sangat lihai dalam aksi-mengisi-keindahan-hati-dengan-pujaannya ini. Pernahkah kau rasakan ingin menengok ke suatu arah karena sepertinya diarah itu ada orang yang memandangmu dengan tidak wajar?. hal itulah yang sedang dialami oleh Sani. sudah tiga kali Sani melemparkan pandangan kearah tak tentu, dekat dengan arah tempat "syuting" Zamzani. Zamzani lebih pintar lagi sepersekian mikro detik sebelum lemparan pandang Sani jatuh dimatanya, dia sudah mengalihkan perhatian ke bukunya, bahkan sempat dia bersembunyi dibawah bangkunya.
pak Husein sempat terkekeh melihat kejadian itu.Sudah sepuluh menit ia biarkan Zamzani dengan aksinya itu. Lima menit lagi waktu istirahat ini berakhir. Pak Husein segera bangun, mengambil ancang-ancang untuk memeringatkan Zamzani, Zamzani yang jeli melihat arah pergerakan pak Husein, ikut bangun , dia mengacungkan tiga jarinya ke pak Husein--pertanda permohonan perpanjangan waktu selama tiga menit-- . pak Husein geleng-geleng keheranan melihat tingkah Zamzani, "cintanya mulai berlebihan" pikir pak Husein, namun ia tetap memaklumi Zamzani dan kembali ke tempatnya duduk, kembali ke komputer tempat semua proses pemimjaman disini berlangsung.
Zamzani pun kembali melanjutkan kegiatannya selama 30 detik sampai kemudian, seorang lelaki bertubuh gagah layaknya anak TN, berkacamata, dengan rambut cepak, mengagetkannya dengan membuka buku asal ambil Zamzani kedepan, sehingga yang terlihat adalah bagian dalamnya, bukan sampulnya. Zamzani tersentak kaget, ia tak mengira aksinya ini diketahui Roni, kakak kelas Zamzani yang ternyata audara kandungnya Sani. Zamzani lemas, matanya sayu, ia pasrah dengan apa yang akan terjadi. Beruntunglah Zamzani ketika kak Roni pergi tanpa sebuah kata, kak Roni hanya meniggalkan dua kali geleng ke Zamzani.
Kau tahu?, ketika kegiatanmu mengagumi seseorang yang benar-benar kau kagumi diketahui oleh orang lain, malu rasanya, tapi ini bukan orang lain, ini kak Roni yang bisa saja bercerita tentang hal ini kepada Sani ketika mereka makan malam nanti. Masihkah kamu punya muka didepan pujaanmu ketika hal itu benar-benar terjadi?
Kurang lebih begitulah perasaan Zamzani, banyak yang menyebut galau. Aku menyebutnya galau mendamda.
Masih empat menit sebelum bel masuk kelas berbunyi, Zamzani yang sedang galau-mendamba sempat menuliskan kalimat "bantu aku ALLAH" dihalaman yang terbuka tadi, kemudian dia langsung pergi dengan tetap membiarkan bukunya terbuka tanpa dikembalikan ketempatnya (jangan ditiru). Ia keluar sambil dalam hati berfikir akan berbuat apa. beberapa saat setelahnya Sani pun keluar. Hingga tinggal Tini, teman sekelas Zamzani yang sangat rajin, dia masih bernaung di perpustakaan. Dia menghampiri buku Zamzani yang tertinggal tadi, buku itu menarik perhatian Tini, sempat dia baca halaman yang terbuka tadi.
isinya :
AMBAK, sebuah motivasi yang besar dalam belajar, bahkan bukan hanya belajar, dalam setiap melakukan kegiatan pun begitu, pikirkanlah AMBAK sebelum melakukan sesuatu pikirkan lagi AMBAK setiap ingin menyerah dalam sesuatu. kau pasti bisa
biarkan AMBAK ini mendorongmu, pikirkan AMBAK dengan baik, harus sebaik-baiknya.
kelak kau akan berhasil
"BANTU AKU ALLAH"
(tini sempat geram mengetahui ada orang yang mencoret buku di perpustakaan)
AMBAK
Apa
Manfaatnya
BAgiKu ?
Tini merasa seakan-akan buku itu berkata padanya, hanya padanya, bagaikan buku itu hanya ditulis untuknya. Tini memang sedang ada masalah dengan niatnya belajar, memang dia rajin, tapi dia merasa AMBAKnya belum kuat." Apakah hanya karena nilai-nilai rapotku??", pendamnya.
Karena merasa buku itu hanya dibuat untuknya, dia pergi keluar, tanpa mengembalikan buku itu (JANGAN DITIRU)
apa ambakku bikin blog??